Friday, January 4, 2013

AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH AL – GHAZALI DAN SIKAPNYA TERHADAP TEOLOGI ISLAM



A.    PENDAHULUAN


1.      Latar Belakang

Al ghazali dalam sejarah filsafat dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap segala – galanya. Perasaan syak ini kelihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran ilm al kalam atau teologi yang diperolehnya dari al Juwaini. Dapat diketahui dalam ilmu kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Dalam bukunya al Ghazali y  ngberjuul al Munqiz Min al Dalal (penyelamat dari kesesatan) ia ingin mencari kebenaran yang sebenarnya yaitu kebenaran yang diyakininya betul- betul merupakan kebenaran, seperti kebenaran sepuluh lebih banyak dari tiga. “ sekiranya ada orang yang mengatakan bahwa tiga lebih banyak dari sepuluh dengan argumen bahwa tongkat ia jadikan ular dan hal itu memeng benar ia laksanakan, saya akan kagum melihat kemampuannya, tetapi sesungguhnya demikian keyakinan saya bahwa sepuluh lebih banyak daripada tiga tidak akan goyah” seperti itu lah pendapat al Ghazali pengetahuan yang sebenarnya.
Padamulanya hal serupa itu dijumpai al Ghazali dalam hal – hal yang ditangkap dengan pancaindera tetapi baginya kemudian ternyata bahwa pancaindera juga berdusta contohnya bintang dilangit kelihatannya kecil tapi ternyata besarnya melebihi bumi. Karna tidak percaya lagi pada pancaindera ia kemudian meletakkan kepercayaanya pada akal , tetapi ternyata akal juga tak dapat dipercayai, sewaktu bermimpi al Ghazali dapat melihat hal – hal yang kebenarannya yang diyakini betul tetapi ketika bangun ia sadar bahwa yang dilihatnya tidak benar.
Al Ghazali mempelajari filsafat untuk menyelidiki apakah pendapat yang di sampaikan filosof- filosf itu merupakan kebenaran, bagi al Ghazali pendapat yang dikemukakan filosof lain tidak kuat dan ada yang bertentangan dengan ajaran islam. Akhirnya al Ghazali mengambil sikap menentang terhadap fisafat.
Hasil karya al Ghazali merupakan cermin nyata dari jalan pemikirannya, dia memulai karir ilmiahnya dari menngali hukum islam kemudian berfalsafah dan terakhir tenggelam dalam dunia sufi. Pemikirannya yang cemerlang dalam mempertahankan akidah sunni dari pemikiran filsafat yang bersendikan akal semata dan pengaruh kebatinan yang telah keluar dari garis agama, dan atas sumbangan itu ia diberikan gelar HUJJATUL ISLAM (argumen islam).
Pemikiran dan karya – karyanya Al Ghazali yang lancar dan logis itu menyebrang kebenua eropa, menembus dinding – dinding gereja dan menyusup pada hati para penghuninya. Buku Tahafutul Falasifah telah disalin dan diberi komentar oleh Mun dalam bahasa perancis.
Tidak diragukan lagi kalau al Ghazali adalah pemikir yang memiliki kapabiliti yang luar biasa. Keilmuan al Ghazali meliputi bidang- bidang ilmu fiqh, usul fiqh, ilmu kalam, mantik, filsafah, tasawuf, ahlak, astronomi dan lain sebagainya, kecuali ilmu hadist yang tidak begitu matang dan medalam.









B.     PEMBAHASAN.
AL GHAZALI DAN SIKAPNYA TERHADAP TEOLOGI ISLAM
Al Ghazali pemikir yang Handal

Tidak diragukan lagi bahwa al ghazali adalah pemikir islam yang memiliki kapabilitas ( al quadrah yang luar biasa. Keilmuan Al ghazali meliputi bidang – bidang ilmu fiqh, usul fiqh, ilmu kalam, mantik, filsafah, tasawuf, ahlak, astronomi dan lain sebagainya, kecuali ilmu ilmu yang tidak begitu matang dan mendalam (al qardhawi,1994:11), bahkan dari sisi lain ia adalah salah satu daripada paksi (qutb) sufi, ahli mujahadah, tkoh pendidik dan da’i (pendakwah) ( al qardhawiy,1994:11).
Para pengkaji bidang  fiqh, mengkaji fiqh al ghazali dalam kitab-kitab yang ditulisnya seperti al basit, al wasit, al wajiz, al khulasah, disamping didalam ihya sendiri dipadati pembahasan-pembahasan mengenai fiqh, bahkan dikitab ini ada semacam usaha memadukan fiqh dengan tasawuf, sehingga yusuf al qardhawy (19914:11) menamakannya “memfiqihkan taswuf” atau “mentaswufkan fiqh”. Para pengkaji usul fiqh mengkajinya daripada Al ghazali dalam kitabnya “al mankhul”dan “al musthafa”. Para pengkaji dibidang falsafah , teologi, dan logik (mantik) mengkajinya dari pemikiran –pemikiran  maqasid al  falsafah, tahalut al falsafah, al munqiz min al dalal, al iqtisad fiy al iqtikad,faysal al tariqah, qawwaid al aqaid dan lain sebagainya. Para pengkaji di bidang tasawuf, ahlak (moral) dan pendidikan mengkajinya disekitar kitab-kitab ; ihya ulumuddin, minhaj al abidin, bidayah al hidayah, mizan al amal, mi’raj al salikin , ayyuhal walad dan lain sebagainya. Para pengkaji di bidang perbandingan agama mengkaji sekitar kitab – kitab al ghazali; al qaul al jamil fiy raddi’ ala man gayyara al injil, fadaih al batiniyah, hujjatul haq, mafsal al khilaf dan lain sebagainya. Para pengkaji dibidang psycology dan sains kemasyarakatan dapat mengkaji pemikiran al ghazali yang tertuang dalam kitabnya ihya ulumuddin, dmana al ghazali telah mencatat didalam karyanya ini segala fenomena (terutamanya yang berkaitan dengan gejala sosial dan penyelewengan akidah) yang berlaku, dalam masyrakat pada masanya, mendedahkan segala keburukanyang berlaku kemudian mengkritiknya lalu memberikan jaln keluarnya serta mengobatinya dengan ramuan obat – obatan islam.(al qadhawy 1994;14-16).
Berdasarkan hakikat itu semua barangkali tidak berlebihan kalu imam ghazali ini dikatakan sebagai figur dari sekian banyak figur  pemikir islam yang memiliki encyclopedia keilmuan pada masa prof. Mukammad mustafa al maragi (bekas syaih al ashar) sebagaimana yang dikutp al qadhawy (1994;18) pernah mengatakan demikian:
Bila aku sebut nama-nama ulama, maka fikiranku akan tertuju kepada keistimewaan dan spesialisasi kepakarannya. Jika disebut ibnu sina atau al farabi maka akan terbayng dalam fikiran adlah dua tokoh pemikir besar falsafh islam. Bila disebut al bukhary, muslim dan akhmad terbayanglah dalambenak pemikiran tokoh – tokoh yang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hafalan, berlaku jujur (al sidq), amanah, matang,mendalam, dan mengetahui para perawi hadist. Tetapi manakala disebut al ghazali maka terbayanglah dalam pemikran berbagai aspek dan dimensi kepakaranya,  seolah-olah al ghazali bukan satu,terbilang al ghazali setiap satunya memiliki kemampuan dan kepakaran tersendiri, maka tergambarlah ghazali juga seorang fiqh yang handal dan mahir, al ghazali jg seorang fiqh yang bebas, tidak  taqlid, al ghazali seorang pakar theologi islam, pemimpin ahli sunnah, al ghazali juga seorang pakar sains kemasyarakatan yang mendalami hal ikhwal masyarakat, al ghazali juga seseorang yang ada pada falsafah . maka al ghazali terbayang adalah rokoh yang mencerminkan encyclopedia masanya dan ia selalu haus untuk menguasai berbagi bidang  disiplin ilmu.

AL GHAZALI PEMIKIR KONTROVERSI
Al ghazali pada dasarnya seorang theolog sufi, kesufian al ghazali tidak diragukan lagi sebagaimana terbukti dalam karya- karyanya yang mencerminkan kesufiannya seperti dalam karya- karyanya yang mencerminkan kesufiannya seperti ihyaulumuddin , min hajul abidin, bidayh al hidayah dan lain sebagainya dan memang semenjak pertumbuhannya pun hingga dewasa dan sampai akhir hayatnya ia dibesarkan dalam lingkungan sufi. Oleh karena itu wajarlah apabila dikatakan bahwa al ghazali menempuh jalan sufi sebagai fondasi teologinya.( a. Syafii maarif,1993;54-55)
Selama abad ke 11 sejarah telah menyaksikan berlangsungnya perdebatan yang sengit diantara para  filsuf dan para teolog, atau akhirnya menfisafatkan masalah – masalah metafisik  yang semata mata berdasarkan kekuatan akal atau rasio, tanpa mengambil kira nas- nas qal’i daripada alquran dan sunnah nabi yang shahih. Fenomena ini ternyata menjadi cabaran bagi al ghazali yang tetap terus mempertahankan sunnah nabi. Ia telah dihadapkan kepada realiti masalah- masalah aktual yang berlaku diantara para intelektual islam pada masanya. Al ghazali tidak dapat terhindar dari perdebatan ini. Hal ini sebagaimana tercermin dalam karya- karyanya seperti tahafut al falsafah, al munqiz min al dalal, fadaih al bastiniyah dan lain sebagainya.
Al ghazali sebagaiorng yang dikaruniai pemikiran dan hati nurani yang peka dan tajam terhadap masalah-masalah semasa telah mengambil keputusan bijak untuk menetukan posisi pilihannya yang terbaik baginya dengan sikap yang mantap berdasarkan argumentasi – argumentasi yang kokoh. Maka lahirlah al ghazali sebagai pemikir islam yang handal tetapi kontroversi. Para failasufislam dikritik karena berdasarkan kajiannya yang didapati ada dua puluh kekeliruan yang dilakukan para failasuf islam, tiga masalah daripadanya dihukum kufr dan tujuh belas masalah bakinya dihukum bid’ah ( al ghazali ,1985, penyelamat dari kesesatan ,31 / ihya,juz,1,23). Para teolog islam pun dikritik , karena berdasarkan kajiannya, para mutakalimin banyak terlibat perdebatan yang amat sedikit faedahnya (al ghazali ,tt,ihya,juz,1:22). Hanya para ahli sufi saja yang terlepas daripada kritikan al ghazali, ia membisu, tidak mengkritiknya bahkan ia memberikan legitimasi dan justifikasi kepada apa- apa yang dilakukan oleh para syaikh sufi pendahulunya.
Adalah sudah menjadi resiko bagi manusia dalam sepanjang sejarah kemanusiaan bahwa seorang pemikir kontroversi dikutuk dan dipuja , al ghazali tidak terkecuali dalam hal ini , al ghazali terus memakai bahasa logik dan pola argumennya yang dipenuhi sufiisme bercampur dengan spekulasi filsafah telah menyebabkan sementara penulis menuduhnya sebagai yang tersesat (syafii maarif,1993,57). Tajudin ibnu al subkiy didalam karyanya tabaqat al syafiiyah sebagaimana yang dikutip al qardhawy (1994,117-127) telah menyenaraikan para ulama dan pemikir islam yang mengkritik al ghazali, diantaranya al turtusyi, abu abdullah al mariziy,ibn shalah,ibn al jauziy,ibn rushd,ibn taymiyah dan lain-lain, dan oleh karena itu ibn subukiy termasuk pengagum berat al ghazali , ia telah mengemukakan bantahan – bantahan terhadap semua para pengkritik ghazali.
Diantara kritikan para pengkritik al ghazali adalah pernyataan ibn taymiyah sebagaimana yang dikutip oleh al qadharnawy(1994:127). Ia mengatakan bahwa kitab ihya memang dijumpai banyaak faedah , tetapi jg banyak perkara- perkara fasid (buruk) , karena la ghazali coba berbicara masalah-masalah tauhid, kenabian dan hari kebangkitan yang dicampur aduk dengan pemikiran filsafat dan tasawuf. Kelanjutan daripada pernyataan ibn taymiyah ini agaknya di saudi arabiyah sendiri hingga kini masih memandang negatif  terhadap karya – karya al ghazali, di perpustakaan universiti islam mafinah, karya – karya al ghazali terutama ihya,diletakkan dalam koleksi buku – buku terlarang untuk umum, kecuali kajian ilmiah, melainkan hanya satu atau dua kitab al ghazali yang tetap mereka hormati, diantaranya kitab al musthafa yang berbicara tentang masalah-masalah dasar- dasar usul fiqh.
Pada tempat lain ibn taymiyah mengecam al ghazali karena pernyataanya, bahwa belajar ilmu mantiq (logik) adalah fardhlu kifayah. ini menurut ibn taymiyah adalah satu kekeliruan yang besar yang tidak dapat diterima baik oleh akal ataupun syarak. Namun demikian ibn taymiyah mengakui memang sebagaian ilmu mantig ada yang benar dan ada sebagaian yang salah(batil) dan kebanyakan yang benar itu tidak diperlukan. Walau bagaimanapun kerasnya kririkan ibn taymiyah terhadap al ghazali , namun pada tempat lain ia mengakui secara jujur bahwa  didalam ihya itu memang terdapat banyak pandangan guru – guru sufi yang arif dan komitmen dengan amalan hati, demikian juga dengan masalah-masalah ibadah dan adab sopan santun (moral ) yang sesuai dengan perintah al quran dan sunnah nabi (al qardhawi,1994;127).
Apa yang dikemukakan diatas adalah sebagaian contoh para pengkritik al ghazali terdahulu. Manakala pada masa modern ini al ghazali tidak terlepas pula daripada pengkritiknya , diantara sebagimana yang dikutip al qardhawy(1994:160-162)adalah  profesor Dr.yusuf musa dalam bukunya falsafah akhlak didalam islam. Diantaranya ia menyatakan sebagai berikut: adakah filsuf kita (al ghazali) telah meletakkan dasar – dasar kemasalahatan secara umum bagi para muslim sebagi umat yang mempunyai hak dalam kehidupan, mempunyai kedudukan yang terus dijaga nya serta mempunyai yang agung yang hendak dicapainya.saya yakin kata yusuf musa bahwa al ghazali yang menulis tentang dasar- dasar ahlak tidak memperhatikan kemaslahatn umum berbanding dengan kemaslahatan ahli sufi secara khusus.oleh demikian menurut yusuf  musa pemikiran al ghazali adalah pemikiran yang bersifat fardly, bersifat individual bukan bersifat umum. Padahal islam datang untuk kebahagiaan umat sejagat bukan untuk kebahagian suatu golongan tertentu . para pengkritiok al ghazali ternyata bukan hanya satu atau dua orang saja atau juga bukan orang – orang kecil tetapi tokoh – tokoh pemikir islam berkaliber dunia. Disini ada beberapa faktor mengapa al ghazali dikritik, diantaranya:
1.      Karena ke asy’arian al ghazali dalam maghzabnya yang mentawilkan masalah – masalah sifat allah disamping yang masih melekatnya kesan falsafah padanya.
2.      Karena kesufian al ghazali dan metodenya yang masih mempertahankan tasawuf.
3.      Karena al ghazali memberikan ruang yang luas keatas ketidakpedulian terhadap kehidupan material dan bahkan mengajak umat agar memilih hidup yang tenggelam dalam lumpur kebahagiaan yang bersifat individual dan subjektif.
4.      Karena al ghazali mengambil pandangan – pandangan orang lain tanpa menyebutkannya.
5.      Karena al ghazali sendiri dengan pemikirannya banyak terjadi kontradiksi antara satu pemikiran dengan pemikiran yang lain.
6.      Karena al ghazali tidak menghiraukan kejadian-kejadian besar yang berlaku dihadapannya yang mengancam keutuhan umat islam (al qardhawy,1994:158-159).
Diatas itu merupakan sebagian contoh kritikan terhadap al ghazali dari pihak yang tidak suka padanya. Tetapi dari kutub yang lain terdapat juga tidak sedikit para pengagum berat al ghazali termasuk diantaranya gurunya sendiri, yaitu imam haramain yang memberi pengiktirafan bahwa al-ghazali adalah lautan yang sangat dalam. Murid al-ghazaliyang menyatakan bahwa al-ghazali adalah syafi’i kedua, ibn kaihir dan lain-lain (tajjudin ibn al-subbuky,tabaqat al-syafi’iyah,juz 6:192-216). Pemberian gelar”hujjainul islam” kepada al-ghazali sebagai bukti mewakili pandangan mereka yang mengkagumi al-ghazali. Sebagian  masyarakat di indonesia  beranggapan bahwa kalau kitab”ihya” berada dalam satu rumah, maka rumah itu akan terhindar daripada kebakaran api.
Kritikan dan pujian kepada al-ghazali sebagai mana yang telah dikemukakan di atas kadang-kadang berlebihan atau melampaui, tetapi ada juga yang  pertengahan, yang baik adalah yang pertengahan. Pada masa kini kita dapati umat islam teruamanya di asia tenggara bersikap moderat (tawasut) terhadap al-ghazali, mengkritik dengan tajam  kepadanya  tidak, memuji setinggi langit pun tidak, tetapi tetap menghargai al-ghazali karena kontribusinya kepada dunia dan umat islam.




PENDIRIAN AL GHAZALI TERHADAP TEOLOGI ISLAM

Kedudukan al-ghazali sebagai ahli dalam teologi islam tidak diragukan lagi, karena ia mengajarkan ilmu ini dalam sekolah nizamiyah baghdad, disamping ia sendiri menulis beberapa buku tentang ilmu ini.
Oleh karena kematangan dan kebebasan al-ghazali dalam teologi islam ini, maka ia mampu mengeluarkan kritikan-kritikan terhadap para teolog islam yang lain. Menurut al-ghazali bahwa kedudukan ilmu kalam (theologi islam) tidak kuat dan kegunaanya pun tidak banyak faedahnya. Ini disebabkan karea al-ghazali melihat bahwa ilmu kalam ini (theologi islam) memang bertujuan hendak memelihara dan menjaga akidah ahli sunnah serta mengawalnya daripada sebarang kekeliruan yang disengaja dibuat-buat oleh orang-orang bid’ah. (al-ghazali, penyelamat dari kesehatan, 1985:17). Tetapi dalam melancarkan gerakan suci ini, menurut al-ghazali, para teolog islam berpandukan premis-premis yang mereka terima dari pihak lawan. Mereka banyak terlibat dalam usaha hendak menunjukkan kelemahan lawan dengan jalan menunjukkan kenyataan-kenyataan yang kontradiksi yang dikemukakan oleh pihak lawan itu, maka terjadilah perdebatan yang berkepanjangan. Perdebatan seperti  ini amat sedikit faedahnya bagi orang-orang yang tidak menerima apa-apa selain daripada perkara-perkara yang dari segi logiknya pasti benar (al daruny)(al ghazli, 1985:18).
Kritikanya yang lebih tajam lagi terhadap para teolog islam dapat dijumpai dalam “ihya”, dimana al ghazali menyatakan bahwa keberhasilan ilmu kalam ini bergantung kepada dalil- dalilyang digunakannya, kalau dan alquran dan hadist, maka hasilnya jelas . tetapi apabila sudah keluar dari al quran dan hadist, maka hasilnya hanya perang lidah (mujadalah) yang tercela (mazmumah). Ini menurut al ghazali adalah bid ah , dan hanya memperpanjang percakapan – percakapan kosong yang tidak berarti, kadang – kadang tidak ada hubung kait dengan agama yang tidak dikenal pada masa – masa kurun pertama islam. Mengetahui (mukrifat) tuhan, sifat –sifat dan af’alNYA, menurut al ghazali tidak tergantumg sepenuhnya kepada ilmu kalam, bahkan ilmu ini boleh jadi penghalangnya.(al ghazali),ihya,juz.1,22-23)
Selanjutnya alghazali berkata; seorang teolog islam kalau hanya memperluas polemik dan mempertahankan pendapatnya saja, tidak mengikuti jalan akhirat dan tidak pula berusaha memperbaiki hati,maka ia tidak termasuk ulama agama sama sekali(al ghazali, ihya, juz.1,23)
Walau bagaimanapun kerasnya kritikan al ghazali terhadap para teolog islam , tetapi dalam batas-batas tertentu ia sangat moderat dan bahkan berdasarkan analisis tidak mencerminkan pendiriannya yang terakhir sebagai seseorang asyariah(a. Hanafi;t.t.:15)
Dalam al – risalah al- adaniyah, sebagaimana yang dikutip oleh hanna al – fakhu dan al – khalil (1957:juz. 2:267), al ghazali menyatakan sebagai berikut: ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia, paling penting dan paling sempurna. Ilmu ini wajib dicari oleh setiap orang yang berakal, sebagaimana yang diperintahkan oleh nabi, mencari ilmu menjadi wajib bagi setiap muslim. Bahkan al ghazali di dalam ihya, menyatakan bahwa belajar ilmu kalam adalah menjadi keharusan bagi memerangi bid ah yang lari daripada al quran dan al- sunnah.(al ghazali, t.t.ihya,juz.1.22-23).
Dalam qawait al khaid, dari kitab ihya, al ghazali(t.t.juz.1,96-97-98) menyatakan bahwa ilmu kalam ( teologi islam) tidak dapat dipuji seluruhnya atau dicela seluruhnya. Melainkan ada yang  perlu dan ada pula yang perlu dicela. Ada yang bermanfaat dan ada pula yang berbahaya. Oleh yang demikian sebaiknya tidak perlu diajarkan kepada orang – orang awam, seperti fiqh, hadist dan tafsir, karena takut tidak akan tercapai maksudnya, sebab dikhawatirkan,mengelirukan fikiran serta memalingkan mereka dari akidah yang benar. Akan tetapi selama masih ada orang – orang yang tidak percaya kepada apa yang driwayatkan atau diturunkan oleh tuhan dan tidak puas hati atau dijawab dengan kata – kata “tuhan berkata begini atau rasulullah mengatakan begitu”, maka menurut al ghazali harus ada yang khusus menangani ilmu kalam (teologi islam) dalam setiap negeri, untuk menangkis serangan orang- orang bid ah negeri itu, dan hal ini baru tercapai dengan mengajarkan ilmu itu.

KESIMPULAN
Berdasarkan apa yang telah dikemukakan dalam tulisan ini tentang sikap al ghazali dalam teologi islam, dapatlah dikatakan disini, bahwa al ghazali dalam pemikiran teologinya adalah sangat berhati – hati dan pertengahan dengan mendasarkan kepada perpaduan wahyu dan akal. Oleh karena itu al ghazali sangat mengecam orang – orang mutakallimin yang berpaling daripada dasar wahyu dan hanya mengandalkan rasio saja.
Selanjutnya yang penting disini dalam memberikan pengajaran teologi islam, al ghazali (1971m /1390H 10)bersikap bahwa teologi islam sebaiknya tidak perlu diajarkan secara umum kepada orang – orang awam, karena takut mengelirukan , sebab yang penting baginya ialah memiliki aqidah dan sahih dan keyakinan yang mantap dalam diri mereka. Ini dapat dihasilkan cukup dengan mengikuti apa yang telah ditetapkan syarak. Adapun keperluan kepada tanda bukti (burhan) dan perdebatan yang mendalam ( daqaiq al – jadal) tidak banyak diperlukan.                                                        









KOMENTAR
Menurut saya dalam bab ini al ghazali sudah termasuk salah satu tokoh dari ahlu sunnah wal jamma’ah jadi semua paragraf ini terkandung didalamnya salah satu prinsip aswaja. Satu diantaranya adalah prinsip ukhuwah  karena didalam bab ini al ghazali dan pemikiran nya yang kontroversi dan berbeda dengan pendapat dengan para ulama yang lain  dan hasil karyanya juga sering dikritik  tetapi tetap dihormati karena dalam islam tidak menutup kemungkinan beda pendapat atau pikiran sesama muslim dipandang sebagai kewajaran, beda pendapat tersebut tidak boleh diapresiasikan sebagai permusuhan. Karena hal ini menyangkut masalah ahlaq islamiyah (etika dalam islam) dan etika intelektual muslim yakni perbedaan pendapat dan persepsi.
akhlak atau tasawuf dirumuskan oleh Imam al-Ghazali, Abu Yazid al-Busthami, dan al-Junayd al-Baghdadi, serta ulama-ulama sufi yang sepaham.
Faktor ini dinilai penting karena mencerminkan faktor ihsan dalam diri seseorang. Iman menggambarkan keyakinan, sedang Islam menggambarkan syari’ah, dan ihsan menggambarkan kesempurnaan iman dan Islam. Iman ibarat akar, Islam ibarat pohon. Artinya manusia sempurna, ialah manusia yang disamping bermanfaat untuk dirinya, karena ia sendiri kuat, juga memberi manfaat kepada orang lain (transformasi kesholehan individuan menuju kesholehan sosial). Ini yang sering disebut dengan insan kamil. Atau dalam istilah lain disebut dengan three principles of human life Kalau manusia memiliki kepercayaan tetapi tidak menjalankan syari’at, ibarat akar tanpa pohon, artinya tidak ada gunanya. Tetapi pohon yang berakar dan rindang namun tidak menghasilkan buah, juga kurang bermanfaat bagi kehidupan. Jadi ruang lingkup ini bersambung dengan ruang lingkup yang kedua, sehingga keberadaannya sama pentingnya dengan keberadaan ruang lingkup yang pertama dan yang kedua, dalam membentuk insan kamil. Al-Ghazali tidak percaya pada filsafat, bahkan memandang filosof-filosof sebagai ahlu Al-Bida’, yaitu tersesat dalam beberapa pendapat mereka. Al-Ghazali menyalahkan filosof-filosof sebelumnya dalam beberapa pendapat berikut:
  1. Tuhan tidak mempunyai sifat
  2. Tuhan mempunyai substansi basit (sederhana/simple) dan tidak mempunyai mahiah (hakekat/quiddity).
  3. Tuhan tidak mengetahui Juz’iat (perincian/particulars)
  4. Tuhan tidak diberi sifat al-Jins (Jenis/Jenus) dan Al-Fashl (differentia)
  5. Planet-planet dan bintang-bintang bergerak dengan kemauan
  6. Jiwa planet-planet mengetahui semua juz’iat.
  7. Hukum alam tak dapat berubah
  8. Pembangkitan jasmani tidak ada
  9. Alam itu tidak bermula
  10. Alam itu akan kekal
Tiga dari kesepuluh pendapat di atas, menurut Al-Ghazali membawa kepada kekufuran, yaitu:
  1. Alam kela dalam arti tak bermula
  2. Tuhan tak mengetahui perincin dari apa-apa yang terjadi di alam.
  3. Pembangkitan jasmani tak ada.
Al ghazali tidak menemukan kebenaran yang dia cari. Kemudian dia menemukan bahwa pendekatan tasawuflah yang dapat menjawab semua permasalahan yang dihadapinya dalam menemukan kebenaran sebenarnya. Selanjutnya ia menentang setiap kegiatan filsafat dan mengutuk kaum filosofis sebagai orang kafir dan tak beragama. Sementara Ibnu Rusyd (520 H/1126 M–592 H/1198 M) adalah seorang yang telah terjun ke dunia filosofis Islam. Dalam posisinya sebagai seorang filosof, ia dituntut untuk membela eksistensi filsafat dari serangan-serangan Al-Ghazali yang telah menyebabkan para filosof kehilangan kekuatannya untuk meneruskan aktivitas filsafatnya. Ihyâ’ Ulûmiddîn adalah master piece Al-Ghazali yang mengandung kedalaman kajian aqîdah, filsafat, fiqh, tasawuf, sosial dan politik dalam satu kesatuan  yang holistik. Tasawuf falsafi dan amali digabungkan dalam satu pemikiran dan tindakan yang membawa perubahan positif bagi masa depan dunia dan akhirat.
Al-Ghazali, sesuai dengan prinsip Islam, mengakui bahwa kebaikan tersebar di mana-mana, juga dalam materi. Hanya pemakaiannya yang disederhanakan, yaitu kurangi nafsu dan jangan berlebihan. Bagaimana cara bertaqarrub kepada Allah? Al-Ghazali memberikan beberapa cara latihan yang langsung mempengaruhi rohani. Di antaranya yang terpenting ialah al-muraqabah, yakni mereka diawasi terus oleh Tuhan, dan al-muhasabah, yakni senantiasa mengoreksi diri sendiri.
Menurut al-Ghazali, kesenangan itu ada dua tingkatan yaitu kepuasan dan kebahagiaan (lazzat dan sa’adah). Kepuasan ialah apabila kita rnengetahui kebenaran sesuatu. Al-Ghazali juga menentang ilmu kalam dan ulama kalam, namun ia tetap menjadi seorang tokoh kalam. Tantangannya hanya ditujukan kepada tingkah laku mereka dan kejauhan hati mereka dari agama yang dipertahankan oleh mereka dengan mulut.
Al-Ghazali juga mengambil jalan tasawuf, tetapi membebaskan tasawuf dari setiap tindakan yang dapat menjauhkannya dari Islam, seperti pikiran hulul (Tuhan bertempat pada manusia), ittihad (menunggalnya manusia dengan Tuhan), dan wihdat al-wujud (kesatuan wujud-wujud itu hanya satu, yaitu Tuhan). Al-Ghazali juga dengan jelas menentang pikiran tasawuf yang mengatakan bahwa seorang tasawuf apabila telah mencapai tingkatan ma’rifat, tidak lagi mengenal batas larangan dan sudah menjadi bebas dari ikatan-ikatan syara’. Akhimya kebahagiaan yang tertinggi itu ialah bila mengetahui kebenaran sumber dan segala kebahagiaan itu sendiri. Itulah yang dinamakannya ma’nifatullah, yaitu mengenal adanya Allah tanpa syak sedikit pun, dengan penyaksian hati, yang sangat yakin (musyahadatul qalb). Apabila sampai kepada penyaksian itu, maka manusia akan merasakan suatu kebahagiaan yang begitu memuaskan sehingga sukar untuk dilukiskan.
Dalam setiap langkahnya, baik berhadapan dengan filosof atau dengan ulama kalam atau orang-orang tasawuf, ia hanya rnempunyai tujuan sama, yaitu menghidupkan semangat baru bagi Islam.
Dari aspek akhlak (tashawwuf), komunitas Aswaja berpedoman pada konsep ajaran dua tokoh ulama klasik yakni Imam al-Junaid dan Imam al-Ghazali yang dengan luar biasa memformulasikan konsep tashawwuf sehingga validitas ajarannya sudah teruji, sama sekali tidak ditemukan dari ajaran mereka konsep yang kontradiksi dengan metodologi al-Qur`an ataupun as-Sunnah. Banyak ulama mengklaim bahwa madzhab tashawwuf yang dirintis dua tokoh religius ini merupakan madzhab bersih yang dilandasi dalil-dalil kokoh. Kekaguman kepada dua tokoh ini salah satunya pernah diungkapkan oleh Syaikh Ibn as-Subuki dalam kitab Jam’u al-Jawami’, Syaikh Jalal ad-Din al-Mahalli dalam kitab Syarh al-Mahalli, dan lain-lain.Pernyataan kekaguman tersebut cukup variatif sebagai tendensi akurat bahwa ajaran tashawwuf yang diformulasikan  Imam al-Junaid dan Imam al-Ghazali merupakan ajaran yang benar-benar sesuai dengan kandungan implisit dalam al-Qur`an dan as-sunnah. Maka tidak heran jika madzhab tashawwuf yang mereka rintis ini kemudian banyak diikuti dan dijadikan pedoman pokok oleh komunitas Aswaja.


KESIMPULAN
Dalam bab ini membahas tentang ajaran al ghazali dan pendapatnya yang kontroversi dengan para filosof  lain tetapi keduanya mempunyai kesamaan tujuan yakni ma’rifatullah (mengenal allah) hanya saja berbeda jalan dan tata cara yang ditempuh. Al ghazali dan juga pemikir islam yang lain memiliki kekhasan dalam pemikirannya.
 Perbedaan antara mereka adalah perbedaan khilafiyyah yang dibenarkan,  dan ijtihad yang satu tidak membatalkan ijtihad yang lain. Hal yang sama harus digunakan dalam menyikapi perbedaan antara al-Ghazali dan Ibn Taymiyyah dalam masalah teologi dan tasawuf. Jika Ibn Taymiyyah berbeda dan mengkritik al-Ghazali,  umat Islam tidak harus menganggapnya sebagai satu bentuk penyesatan,  melainkan satu ijtihad yang boleh jadi benar boleh jadi salah (al-khata’ wa al-sawab),  bukan persoalan al-haq (benar) dan al-batil (sesat). Jika ditelusuri dengan lebih lanjut golongan Salafiyyah umumnya berpegang kepada al-Aqidah al-Tahawiyyah dan golongan Asya’irah berpegang kepada A’qa’id al-Nasafi yang jika dibuat perbandingan jelas bahwa antara keduanya tidak ada perbedaan yang prinsipil.
Aswaja juga menetapkan prinsip yang bijaksana dalam menghadapi penyimpangan dan perbedaan. Jika golongan Khawarij cenderung menyesatkan dan mengkafirkan para pelaku dosa (fasiq), ulama Aswaja masih menganggapnya sebagai seorang Muslim, selagi tidak menghalalkan maksiat tersebut, atau menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Mereka boleh berbeda dan tidak sewajarnya memaksakan pendapat terhadap orang lain, khususnya jika pandangan orang lain itu memiliki dasar yang juga kuat untuk berbeda pendapat.
Disinilah perbedaan (ikhtilaf) menjadi rahmat, dan ijtihad masing-masing ulama mendapat pahala yang baik di sisi Allah, asalkan dilakukan dengan penuh tanggungjawab dan amanah ilmiah. Pandangan mereka harus diterima dan ditolak mengikut kekuatan hujah masing-masing. Keterbukaan ini sewajarnya dapat menghindarkan umat Islam dari perangkap fanatisme, ta’assub dan berfikiran sempit sehingga cenderung mudah menyesatkan saudaranya seiman.






















AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH

AL – GHAZALI DAN SIKAPNYA TERHADAP TEOLOGI ISLAM



RIRIN TRI ENDAH RIYANTIE
KELAS A REGULER
PPS UNISMA

No comments:

Post a Comment